TEORI SIKAP KERJA DAN KEPUASAN KERJA

NAMA                         : SUSISNO

KELAS                                    : 3 PA 05

NPM                            : 10507236

SIKAP KERJA

Banyak sekali karyawan2 yang punya sikap bahwa mereka bekerja demi perusahan atau pihak lain. Sikap ini membuatnya terkucilkan dan tidak bisa menyatu dengan apa yang dikerjakan. Buang jauh2 opini destruktif ini.

Citra Diri
Sering kita dengar sikap yang (maksudnya) merendah : ah, saya kuli pt anu. Syukurlah jika itu sikap merendah. Celakanya, terkadang itu adalah proyeksi kekerdilan jiwa. Jika anda sendiri tidak menghargai diri, bagaimana orang akan menghargai anda ? Bagaimana ia akan menghargai dengan mempromosikan anda ? Ucapan2 seperti saya pegawai rendahan, orang rendahan, dll membelenggu anda sendiri menjadi seperti yang anda katakan. Sangat penting kita tidak bersikap seperti itu.

Mulai dengan Akir
Pernah saya bilang, begin with end. Jika ‘end’ yang anda harapkan dan tiup2kan pada diri adalah ‘end’ yang positif, banyak peluang anda menjadi seperti yang anda pikirkan. This is just beginning. Ini hanya sebuah permulaan. kalau begin-nya sudah salah, akhirnya pasti tambah berantakan! Lebih celaka lagi, banyak yang tidak punya gambaran sama sekali ‘end’nya apa. Ya, tidak begin2. Muter2 saja. Semakin dini anda menentukan ‘end’, makin besar peluang untuk sukses. Semakin jelas dan rinci visualisasi ‘end’, makin bai k peluang untuk berhasil. Bagi mereka yang kesulitan menentukan ‘end’, jangan kuatir. Ini masalah yang gampang2 susah. Banyak yang dengan mantap dan spontan bisa menjawab ‘end’nya apa.
‘End’ adalah sesuatu yang belum nyata, masih ada dalam benak kita. Tetapi itulah sebuah ‘permulaan’. Mulailah dengan gagasan, cita2, kayalan, impian, rekacipta, keinginan kuat, dan sejenis ini dalam benak. Itulah ‘awal’. Sesudahnya, tindak lanjuti sampai tuntas.

Menghormati diri
Tidak dihargai  – kata2 ini sering terdengar terutama bagi mereka yang masih merayap diawal awal karir. Orang pertama yang tidak menghargai justru dia sendiri karena punya perasaan demikian. Ia merendahkan dirinya karena pangkatnya masih rendah. Atau pekerjaannya tidak sesuai dengan harapan. Ia malu jadi maklar, jadi dagang beras, dll. Ini juga sikap2 yang sangat merusak citra diri. If you can’t respect yourself, or whatever you do, don’t expect people to respect. Jika anda sendiri tidak mampu menghargai diri atau apapun yang anda sedang kerjakan, jangan berharap dihargai orang, dong. Kalau ia sendiri tidak menghargai apa yang dilakukan, bagaimana ia bisa berprestasi ? Mulailah dengan sikap ngajèni diri sendiri. Dengan menghargai apa yang dikerjakannya.

If you wish to achieve worthwhile things in your personal and career life, you must become a worthwhile person in your own self-development. Brian Tracy
Jika anda ingin mencapai sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupan pribadi atau karir, anda harus terlebih dahulu menghargai diri sendiri dalam pengembangan diri.

Menjiwai pekerjaan
Idealnya kita mencari pekerjaan yang kita sukai. Faktanya tidak selalu begitu. Kadang pekerjaan ditangan tidak sesuai dengan harapan. Celakanya, syarat awal untuk bisa bekerja dengan baik adalah mencintai pekerjaan anda. Jika anda sudah mencoba dan tetap tidak menyukai pekerjaan anda, tidak ada pilihan lain kecuali quit dan cari pekerjaan lain yang kita ingini : minggat.

Jika ini sulit dilakukan, anda hanya punya satu pilihan. Jiwailah pekerjaan anda. Apapun itu. Menjiwai berarti pekerjaan itu menjadi jiwa anda. Seperti jika kita naik motor, kita akan menyatu dengan motor itu seolah motor itu kepanjangan anggauta badan kita.

Do what you love, love what you do, and deliver more than you promise. Harvey Mackay Kerjakan apa yang kau sukai, sukai apa yang kau kerjakan, dan laksanakan lebih dari yang diminta.

Sebisa mungkin kita menguasai pekerjaan kita. Mendalami sampai detil2nya. Jika kita menguasai, harga diri dan rasa percaya diri kita akan meningkat pesat. Dua hal itu nantinya akan menyalakan sumber energi kita untuk merangsek maju lebih jauh lagi.

Inisaiatif
Kita menyuruh seseorang mengantar surat dengan sepeda. Karena sepeda bocor, ia kembali kekita dan bilang bahwa sepeda nggembos sehingga surat tidak bisa diantar. Sikap ini adalah sikap yang paling menjengkelkan. Yang penting surat sampai. Naik ojek, kek. Jalan kaki, kek. Berinisiatiflah. Jangan sedikit2 kembali ke boss bilang ini sulit itu susah. Kecuali sudah benar2 mentok.

Tunggu perintah
Lebih jauh lagi, jangan menunggu perintah. Dahuluilah sebelum diminta. Ini akan membebaskan kita dari perasan diperintah atau di-suruh2. Buatlah atasan anda menjadi tidak pernah memerintahkan apa2 karena anda telah mengantisipasikannya terlebih dahulu. Staff yang menjengkelkan adalah mereka yang selalu diingatkan untuk mengerjakan ini dan itu. Itu menunjukkan kurangnya inisiatip atau kemalasan  ybs.

Lancang
Berkebalikan dengan staff yang kurang inisiatip, lancang juga sama buruknya. Jangan mengerjakan sesuatu yang bukan wewenang kita. Pandai2lah membatasi diri untuk tidak melancangi kewenangan.

Berbuat lebih
Upayakan untuk senantiasa melebihi target. Jika kita diminta membuat sepuluh misalnya, usahakan membuat 11. Jika kita harus mengerjakan dalam 3 hari, pikirkan bagaimana caranya mengerjakannya dalam 2.5 hari. Sikap ini akan membentuk sikap kerja anda untuk mengerjakan bukan hanya se-baik2nya tetapi, kalau bisa, lebih baik.
Menolak tugas / tanggung jawab
Sering terdengar umpatan, this is not my fuckin job. Faktanya, kita sering harus mengerjakan pekerjaan2 yang bukan urusan kita atau tidak ada dalam job description kita. Dulu saya adalah tukang insinyur dan saya me-ngumpat2 prak prèk ketika harus ngurusi yang bukan urusan gue. Walau mengumpat, saya kerjakan. Apa akibatnya ? Saya jadi tahu perpajakan, hukum perburuhan, perbankan, dll tetek bengek yang not my fuckin job. Itu hak anda untuk menolak tugas. Tetapi itu juga berupa kesempatan, do it ! Seseorang yang hanya mau mengerjakan sebesar ia digaji, sulit punya pendapatan lebih dari itu

Dalih
Banyak juga orang2 yang bersikap men-cari2 dalih atas kemalasannya, ketidak mampuannya, kesalahan sikapnya, dll.
The best job goes to the person who can get it done without coming back with excuses. Napoleon Hill. Pekerjaan2 terbaik jatuh ketangan orang2 yang mengerjakannya tanpa dalih.

Kepuasan Kerja

Beberapa definisi tentang kepuasan kerja menurut beberapa tokoh, diantaranya adalah :

  1. Kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja yaitu seberapa jauh pekerjaan secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. (Robert Hoppecl New Hope Pensyvania).

2.   Kepuasan kerja pada dasarnya adalah ” security feeling” (rasa aman) dan mepunyai segi-segi :
a. Segi sosial ekonomi (gaji dan jaminan sosial).
b. Segi sosial psikologi :
– Kesempatan untuk maju
– Kesempatan mendapatkan penghargaan
– Berhubungan dengan masalah pengawasan
– Berhubungan dengan pergaulan antara karyawan dengan karyawan dan antara keryawan dengan atasannya. (Sutrisno Hadi ’Analisa Jabatan dan Kegunaannya’. Bulletin Psychology).
Dapat disimpulkan dari pendapat beberapa ahli di atas bahwa kepuasan kerja merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk di dalamnya upah , kondisi sosial, kondisi fisik dan kondisi psikologis

Menurut Baron dan Greenberg, terdapat tiga kategori utama hal-hal yang berhubungan dengan kepuasan kerja, yaitu :
1. Faktor Organisasi
Yaitu sistem imbalan (reward) meliputi; promosi, kebijakan organisasi, dan kualitas pengawasan yang dirasakan oleh karyawan.
2. Faktor Pekerjaan dan Work Setting
Yaitu meliputi beban kerja secara keseluruhan, variasi tugas, tingkat pencahayaan, jumlah sekat di sekeliling karyawan, dan lingkungan sosial.
3. Faktor Karakteristik Personal
Yaitu meliputi self esteem, kepribadian, dan usia 28.

Dampak dari Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja.
a. Dampakterhadap Produktivitas
Produktivitas dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor moderator di samping kepuasan kerja. Lawler dan Porter mengharapkan produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran intrinsik dan ganjaran ekstrinsik yang diterima kedua-duanya adil dan wajar dan diasosiasikan dengan unjuk kerja yang unggul.

b. Dampak terhadap Ketidakhadiran (Absenteisme) dan Keluar Tenaga Kerja (Turnover)
Porter dan Steers berkesimpulan bahwa ketidakhadiran dan berhenti bekerja merupakan jenis jawaban-jawaban yang secara kualitatif berbeda. Dari penelitian ditemukan tidak adanya hubungan antara ketidakhadiran dengan kepuasan kerja. Steers dan Rhodes mengembangkan model dari pengaruh terhadap ketidakhadiran, mereka melihat adanya dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir.
Model meninggalkan pekerjaan dari Mobley, Horner dan Hollingworth, mereka menemukan bukti yang menunjukan bahwa tingkat dari kepuasan kerja berkolerasi dengan pemikiran-pemikiran untuk meninggalkan pekerjaan, dan bahwa niat untuk meninggalkan kerja berkolerasi dengan meninggalkan pekerjaan secara aktual. Ketidakpuasan diungkapkan ke dalam berbagai macam cara selain meninggalkan pekerjaan, karyawan dapat mengeluh , membangkang,menghidar dari tanggung jawab dan lain-lain.

c. Dampak terhadap Kesehatan
Salah satu temuan yang pentingdari kajian yang dilakukan oleh Kornhauser tentang kesehatan mental dan kepuasan kerja. Meskipun jelas bahwa kepuasan berhubungan dengan kesehatan , hubungan kausal masih tidak jelas. Diduga bahwa kepuasan kerja menunjang tingkat dari fungsi fisik dan mental dan kepuasan sendiri merupakan tanda dari kesehatan. Tingkat dari kepuasan kerja dan kesehatan saling berkesinambungan peningkatan dari yang satu dapat mempengaruhi yang lain, begitupun sebaliknya jika terjadi penurunan.
Kepuasan kerja merupakan sikap positif yang menyangkut penyesuaian karyawan terhadap faktor-faktor yang, mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kerja, meliputi :
– Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi (Moh. As’ad,1987: 118).
– Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur (Moh. As’ad,1987:117).
– Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar (Drs.Heidjrachman dan Drs. Suad Husnan.1986: 194-195).
– Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan (Moh.As’ad,1987: 11.7).
Dari definisi faktor-faktor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi kepuasan kerja yang memiliki peran yang penting bagi perusahaan dalam memilih dan menempatkan karyawan dalam pekerjaannya dan sebagai partner usahanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau sepantasnya dilakukan.

Cara Menghindari Ketidakpuasan Kerja
Kepuasan Kerja karyawan sangat dipengaruhi oleh berbagaio faktor, jika faktor pemuas ini tidak diperoleh oleh karyawan maka akan muncul ketidak puasan yang dapat memunculkan perilaku negatif karyawan, Untuk menghindari konsekuensi perilaku negatif dari ketidakpuasan karyawan, maka ada beberapa cara untuk menghindari ketidakpuasan kerja tersebut:
a. Membuat pekerjaan menjadi menyenangkan
Karyawan akan merasa puas apabila karyawan tersebut menikmati pekerjaannya daripada mereka merasa bosan. Walaupun beberapa pekerjaan memang membosankan tetapi sangat memungkinkan membuat suatu pekerjaan menjadi menyenangkan.
b. Pemberian gaji yang adil
Karyawan akan merasa tidak puas kalau sistem penggajian di organisasi mereka tidak adil. Jika karyawan merasa sistem penggajian di perusahaan adil, maka mereka akan puas.
c. Right Person in the Right Place
Seorang karyawan ditempatkan pada pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan, dan personality mereka. Hal ini dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan tersebut karena dapat mengembangkan dan menggunakan kemampuan yang sesuai dengan personality dan pekerjaannya.
d. Menghindari kebosanan dalam pengulangan pekerjaan
Banyak orang ingin menemukan sedikit kepuasan dalam melaksanakan pekerjaan yang berulang-ulang dan membosankan. Dalam two-factor theory, karyawan akan merasa lebih puas apabila diperbolehkan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri.

Dimensi Kepuasan Kerja
Menurut Smith, Kendall, dan Hullin terdapat lima dimensi pada kepuasan kerja, yaitu :
a. Pimpinan yang adil, yakni sikap pimpinan yang tidak membedakan karyawan. Pimpinan yang mengerti kebutuhan karyawan dan mau menjalin hubungan baik, serta mampu menjadi contoh yang baik dalam hal disiplin.
b. Pekerjaan itu sendiri, yaitu meliputi beban kerja secara keseluruhan, variasi tugas, maupun pekerjaan yang memungkinkan adanya interaksi sosial.

Komponen-komponen Kepuasan Kerja
a. Menurut Yudha kepuasan kerja merupakan kombinasi dari beberapa komponen
pendekatan, yaitu :
Ø Pendekatan Psikologi Sosial (the social psychological approach)
Berkaitan dengan bagaimana persepsi individu terhadap pekerjaan itu sendiri.
Ø Pendekatan Ekonomi neo-klasik (neo -classical economic approach)
Berhubungan dengan berapa jumlah kompensasi yang diperoleh melalui pekerjaan tersebut guna memenuhi kebutuhan hidupnya (termasuk keluarganya).
Ø Pendekatan Sosiologi (sociological approach)
Menekankan bagaimana kondidi hubungan interpersonal dalam konteks lingkungan sosial.
b. Menurut Greenberg dan Baron kepuasan kerja meliputi beberapa unsure
Ø Komponen Evaluatif (evaluative component)
Adalah dasar afeksi (perasaan, emosi) yang berfungsi untuk menilai suatu objek.
Ø Komponen Kognitif (cognitive component)
Yaitu mengacu pada unsure kecerdasan (intelektual) untuk mengatahui suatu objek, yakni sejauh mana individu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan objek yang dimaksud.
Ø Komponen Perilaku (behavioral component)
Adalah bagaimana individu menentukan tindakan terhadap apa yang diketahui ataupun yang dirasakan

15 Responses to “TEORI SIKAP KERJA DAN KEPUASAN KERJA”

  1. meika Says:

    yup, jangan merendahkan diri walau kita memiliki jabatan yg rendah atau kita baru saja bergabung dalam suatu perusahaan.” orang lain aja bisa, kenapa kita tidak?” Tunjukan kalau kita juga bisa seperti mereka dan lebih baik dari mereka.
    tunjukan kepada mereka kalau kitalah PEMENANG bukan PECUNDANG
    Jadi hargailah dirimu terlebih dahulu baru orang lain akan menghargaimu.

    You can if you think you can….
    apabila kita berpikir positif dan senantiasa memikirkan masa depan hidup kita dengan optimisme maka keberhasilan dan kebahagiaan akan benar2 kita dapatkan.
    dan apabila kita berpikir kita bisa melakukan pekerjaan itu pastinya pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan.
    kepuasan kerja tumbuh dari dalam diri kita, mencoba untuk mencintai, menyayangi , dan menggemari pekerjaan itu lebih memudahkan kita untuk mencapai kepuasan dalam kerja…

  2. Adiethz Says:

    Secara garis besar saya setuju sama blog anda. Tapi diusahakan dalam nulis blog jgn gunakan kata-kata kasar. Biasakan menggunakan yang lebih sopan supaya orang-orang menghargai blog anda.
    Pada dimensi kepuasan kerja saya sangat setuju dengan pendapat anda dmn harus ada sikap adil dari sang pemimpin. Menurut saya hal itu poin terpenting dalam lingkup kerja. Biasanya kalau masih dalam status anggota keluarga,, susah banget tradisi itu dilepaskan. Biasanya kalau ada kesalahan masih tidak dipecat karena merupakan anggota keluaga/masih dalam lingkup keluarga. Berbeda dengan karyawan biasa yang tidak ada hubungannya dengan atasannya,, kalau melakukan suatu yang fatal biasanya tidak ada ampun,, alias bisa dipecat langsung. Berbeda dengan di luar negeri,, orang kebanyakan lebih melihat skillnya. Apabila tidak berskill maka akan sangat susah mencari kerja. Setau saya begitu,, :D.

  3. Elly Says:

    Saya setuju,dalam hidup kita harus selalu optimis…begitu juga dalam bekerja,harus selalu optimis bahwa kita bisa menjadi yang terbaik…lakukan pekerjaanmu dgn sebaik2nya sehingga km mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal…

  4. vania Says:

    saya setuju dengan penjelasan anda. dari hal-hal diatas bisa di ambil pelajaran penntingnya. dengan begitu qta semakin termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik mgkn.

  5. rene Says:

    kepuasan kerja mgkn bs ddpat saat seseorg itu bs menikmati pekerjaan apa yg sdg dtekuni. ketika seseorg mulai merasa slalu tidak puas dgn apa yg dkerjakannya jg bs berpengaruh. krn kita tau kdg knyataanya ini tidak smua org menikmati pekerjaan sesuai bidangnya. itu jg bs menimbulkan suatu ketidakpuasan. saat org itu berusaha bekerja d bidangnya ia akan mulai menikmati dan pencapaian kepuasan kerja pun otomatis bs draih dan tentu saja kepuasan yg maksimal.

  6. tirza Says:

    wah,teori ini sungguh sangat membantu kita dalam menciptakan lingkungan kerja yang baik. Terutama untuk orang2 yg d luar sana masih belum pernah merasakan lingkungan kerja. Tetapi teori tetaplah teori bila tidak ada prakteknya sama sekali. Dan itu bergantung pada masing2 individu untuk menciptakan kepuasan kerja nya sendiri. Bila kita mempunyai keinginan kuat,maka nothing is impossible dan semua faktor2 penghalang dalam mencapai kepuasan kerja akan teratasi dengan mudah. Dengan adanya motivasi yang kuat,secara otomatis sikap kerja kita akan optimal pula.

  7. Anna Says:

    bagian yg saya sukai yaitu bagian penjelasan dari sikap inisiatif, lancang, dan menunggu perintah….seringkali kompeten atau tidaknya seorang pekerja dilihat dari respon mereka…apakah mereka orang yang proaktif atau reaktif….=)

  8. gabby Says:

    Terimakasih banyak! Saya mendapat banyak masukan dari blog yang anda buat. Jika semua pekerja memiliki etos kerja yang baik, tentunya perusahaan lebih diuntungkan.

    Sebagian juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan di luar dunia kerja. Seperti koordinasi volunteer, organisasi, dan sebagainya.
    Maju terus!

  9. Eddy_Afui Says:

    Teori yang bagus, saya setuju dengan penjelasan anda. Teori di atas dapat memotivasi setiap orang yang membaca untuk dapat melakukan sikap kerja dan kepuasan kerja yang lebih maksimal lagi. Sedikit masukan dari saya, sebaiknya di akhir teori diberi kesimpulan inti teorinya…

  10. mashimaroo Says:

    bagus juga isi artikelnya, bagus ditujukan untuk orang” yang baru lulus kuliah dan yang sedang mencari pekerjaan, karena bisa dapet saran buat melangkah. emang yaa kita harus cinta sama kerjaan kita, kalo gak ntar hasil yg kita buat jg jadi ga optimal, trus ujung”nya bs” qt jg ga dapat kepuasan optimal dari perusahaan, maksudnya timbal baliknya gitu, kayak gaji, jabatan, penghargaan dan fasilitas..

  11. sisca licanty Says:

    kepuasan kerja, akhirnya gw bs dapetin apa itu pengertian kepuasan kerja, ternyata gw bisa dapet bantuan solusi buat mengatasi ketidakpuasan kerja. selama ini gw ngerasa kalo gw slalu n slalu disalahin sama boss, kesannya gw jd kambing hitam gt, smua kselahan yg bkn gw lakuin jg rasa rasanya ditimpain ke gw. gw uda ngerasa jenuh bgt di kantor, dan gw skr uda dapt sdikit bntuan solusi nya dari artikel init, bahwa ada juga cara menghindari dan menyiasati ketidakpuasan kerja..
    trims buat idenya..

  12. JRM Says:

    isi nya lumayan, teorinya lumayan tapiii boleh tanya gak apa sih kaitan antara sikap kerja sama kepuasan kerja?? artikel nya lumayan tapi tolong jawab ptnyaan saya..
    soalnya kan aneh kalo sikap kerja dan kepuasan kerja dijadikan 1 artikel tapi gak ada kaitannya. saya pingin tau secara teoritisnya..

  13. SUZI Says:

    Menurut Baron dan Greenberg, terdapat tiga kategori utama hal-hal yang berhubungan dengan kepuasan kerja, yaitu :
    1. Faktor Organisasi
    Yaitu sistem imbalan (reward) meliputi; promosi, kebijakan organisasi, dan kualitas pengawasan yang dirasakan oleh karyawan.
    2. Faktor Pekerjaan dan Work Setting
    Yaitu meliputi beban kerja secara keseluruhan, variasi tugas, tingkat pencahayaan, jumlah sekat di sekeliling karyawan, dan lingkungan sosial.
    3. Faktor Karakteristik Personal
    Yaitu meliputi self esteem, kepribadian, dan usia 28.

    bisa tidak anda memberikan saya contoh teori di atas dalam kehidupan sehari – hari??

  14. randy Says:

    iya juga ya tentang teori di atas, berarti selama ini saya telah menyiakan kesempatan untuk jadi lebih maju dan sukses karena saya tidak memilki sikap kerja yang cukup baik dan akhirnya segala tugas yang sudah saya kerjakan sebelumnya jadi terasa sia – sia, hmm, nyesel banget deh..

  15. edith Says:

    wah, benar sekali ya, kalo kita merendah diri itu ternyata tak selamanya baik buat perkembangan karir kita. maunya sih biar ga dianggep sombong, tapi kalo lagi kesel ama bos trus ditanya “kerja di mana?”, owh saya kerja jadi pesuruh di pt anu itu” trus dlm hati ikutan ngucap mantra akibat kesal sama bos, jadi nya kita mengurangi sikap kerja yang positif untuk menghasilkan kepuasan kerja dan masa depan karir yg bae juga dong ya?!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: